psikologi encore

sains di balik sandiwara penutup yang selalu diminta penonton

psikologi encore
I

Pernahkah kita datang ke sebuah konser musik, lalu band favorit kita mendadak pamit undur diri? Lampu panggung tiba-tiba mati total. Mereka melambaikan tangan ke arah penonton dan berjalan menghilang ke belakang panggung. Tapi anehnya, tidak ada satu pun dari kita yang beranjak pergi menuju pintu keluar. Kita justru tetap berdiri tegak dalam gelap. Kita mulai bertepuk tangan bergemuruh, bersiul, dan meneriakkan satu kalimat keramat secara berulang-ulang: "We want more!" Padahal, mari jujur pada diri sendiri, kita tahu persis mereka akan kembali. Daftar lagu mereka bahkan mungkin sudah bocor di internet dan kita membacanya saat di perjalanan. Pertanyaannya, kenapa kita masih rela ikut bermain dalam sandiwara ini? Mengapa kita berpura-pura terkejut saat mereka benar-benar kembali ke atas panggung?

II

Mari kita mundur sejenak ke masa lalu untuk melihat dari mana tradisi ini bermula. Kebiasaan pura-pura pamit ini sebenarnya bukan ciptaan jenius dari musisi rock modern. Tradisi ini sudah berakar sejak abad ke-17 di gedung-gedung opera mewah di Eropa. Kata encore sendiri diambil dari bahasa Prancis yang secara harfiah berarti "lagi". Dulu praktiknya sangat berbeda. Jika seorang penyanyi opera menyanyikan sebuah aria dengan sangat memukau, para penonton dari kelas bangsawan akan berteriak meminta lagu itu diulang secara spontan. Saat itu juga. Ini bukan sekadar bentuk pujian kepada seniman. Ini adalah simbol unjuk kekuasaan penonton. Mereka merasa berhak mengendalikan jalannya pertunjukan karena mereka adalah pihak yang membayar mahal. Seiring bergantinya abad, tradisi spontan ini mulai berubah bentuk dan bergeser makna. Memasuki era 1970-an, konser musik rock raksasa mulai mengubah encore dari sebuah kejutan murni menjadi sebuah rutinitas wajib. Sebuah ritual penutup yang bahkan sudah diatur secara detail dalam kontrak penampilan.

III

Di sinilah letak teka-teki psikologisnya. Teman-teman pasti sadar ada paradoks yang sangat lucu dari fenomena ini. Kita tahu bahwa adegan perpisahan itu hanyalah sebuah gimmick yang diatur dengan rapi. Musisi idola kita di belakang panggung sana mungkin sedang santai minum air putih sambil menunggu aba-aba dari manajer panggung. Mereka bahkan belum mengganti baju panggung mereka. Kita tahu fakta itu, dan mereka juga tahu kalau kita tahu. Ini adalah sebuah ilusi massal yang secara sukarela kita sepakati bersama. Namun anehnya, jika sebuah band benar-benar menyudahi konser begitu saja tanpa melakukan ritual encore, kita akan pulang dengan perasaan yang hampa. Kita merasa dicurangi dan ada yang belum tuntas. Mengapa otak kita yang logis dan rasional ini tiba-tiba lumpuh begitu lampu panggung dipadamkan? Apa yang sebenarnya sedang diretas oleh sandiwara kecil ini di dalam kepala kita?

IV

Jawabannya ternyata sangat menarik dan berakar kuat pada persilangan antara neurosains dan sosiologi. Pertama, mari kita bicarakan tentang sistem penghargaan di otak kita. Saat kita berteriak dalam kegelapan meminta band kembali tampil, otak kita sedang aktif melepaskan hormon dopamin. Menurut sains, dopamin tidak hanya membanjiri otak saat kita menerima hadiah. Hormon ini justru melonjak paling tajam pada fase antisipasi. Ini sangat mirip dengan prinsip variable reward dalam dunia psikologi. Meskipun kita tahu mereka pasti kembali, ada ketidakpastian kecil tentang kapan tepatnya mereka akan keluar dan lagu apa yang akhirnya akan dimainkan. Ketidakpastian kecil inilah yang membuat otak kita ketagihan setengah mati.

Kedua, ini melibatkan sebuah fenomena psikologis yang disebut peak-end rule. Teori ini digagas oleh psikolog pemenang Nobel, Daniel Kahneman. Otak manusia rupanya tidak dirancang untuk mengingat durasi sebuah pengalaman secara utuh dan merata. Kita berevolusi untuk hanya mengingat titik puncak emosi (peak) dan bagaimana pengalaman tersebut berakhir (end). Ritual encore adalah trik yang sangat jenius untuk memanipulasi bagian end ini. Dengan menciptakan perpisahan yang palsu, musisi sengaja menurunkan grafik emosi kita ke titik terendah sejenak. Lalu secara mendadak, mereka menariknya kembali ke titik tertinggi lewat lagu hits penutup. Emosi kita sengaja dipermainkan bagai rollercoaster agar kenangan tersebut tertancap permanen di memori jangka panjang.

Terakhir, ini adalah murni urusan biologi sosial kita sebagai manusia. Sosiolog legendaris Émile Durkheim menyebut fenomena ini sebagai collective effervescence atau gejolak kolektif. Saat kita berteriak bersama puluhan ribu orang asing di satu ruang yang sama, sesuatu yang magis terjadi secara biologis. Detak jantung dan pernapasan kita perlahan mulai sinkron dengan orang-orang di sebelah kita. Batas imajiner antara "aku" dan "kamu" perlahan melebur menjadi "kita". Encore adalah satu-satunya momen di mana penonton merasa memegang kendali atas jalannya pertunjukan. Mengubah kita dari sekadar konsumen pasif yang menonton, menjadi bagian aktif dari penciptaan seni itu sendiri.

V

Pada akhirnya, menganalisis sandiwara penutup ini justru mengajarkan sesuatu yang sangat manis tentang sisi manusiawi kita. Kita memang makhluk yang dipandu oleh logika, itu benar. Tapi kita juga makhluk sosial emosional yang selalu membutuhkan sedikit drama, membutuhkan rasa kebersamaan, dan sangat membutuhkan rasa penutupan yang berkesan. Kita ternyata rela membohongi diri sendiri sejenak dan menunda logika, demi bisa merasakan sensasi dada yang berdebar itu lagi. Jadi, lain kali jika teman-teman berada di sebuah konser dan lampu mendadak mati total, tidak perlu terlalu dipikirkan. Nikmati saja permainannya. Berteriaklah sekeras mungkin bersama yang lain. Karena terkadang, sebuah kebohongan kecil yang disepakati bersama adalah cara terindah bagi kita untuk merayakan hidup secara nyata.